Di balik gemerlap Kuala Lumpur, ada kisah perjuangan sunyi anak-anak bangsa yang berjuang menuntut ilmu di tanah rantau. Mereka adalah anak-anak tenaga kerja Indonesia yang hidup dalam keterbatasan, tetapi tak kehilangan semangat untuk belajar dan beribadah. Salah satu tempat mereka menimba ilmu adalah Sanggar Belajar (SB) Ampang, di Selangor, Malaysia.
Pada 30 Oktober 2025, saya bersama dua rekan dosen Universitas Muhammadiyah Semarang, Firdaus dan Ari Dwi Astono, berkesempatan mengunjungi SB Ampang dalam rangka monitoring mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) luar negeri sekaligus menjalankan program pengabdian masyarakat. Hari dimulai dengan menyusuri ikon-ikon Kuala Lumpur seperti Menara Petronas, Tugu Kemerdekaan, dan Taman Saloma, sekadar menyerap denyut kehidupan kota sebelum beranjak ke Ampang, tempat kesederhanaan dan ketulusan bersenyawa.
Setibanya di lokasi, kami disambut hangat oleh Faiz Al-Faizin, pimpinan sanggar, dan Ustadz Rafli, pengajar asal Sampang, Madura. Di tempat yang jauh dari sorotan publik itu, mereka mengabdikan diri bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia. Didampingi pula oleh lima mahasiswa Prodi Manajemen Unimus yang sedang KKN, kami berkesempatan mengajar ngaji dan memberikan pelajaran umum. Suasana kelas sederhana, namun antusiasme anak-anak begitu besar. Semangat mereka adalah bukti bahwa pendidikan sejati tidak bergantung pada fasilitas, melainkan pada tekad dan harapan.
Dari perbincangan dengan pimpinan sanggar, kami mengetahui bahwa SB Ampang berada di bawah Ikatan Masyarakat Serantau (IMSA), organisasi komunitas warga Indonesia di Malaysia yang menaungi sekitar 100 anggota. Secara keseluruhan terdapat 2 Sanggar Belajar dibawah IMSA dari total sekitar 70 sanggar belajar di bawah di Malaysia, dengan biaya pendidikan antara 150–250 Ringgit Malaysia per bulan. Namun, 70 persen peserta didik berasal dari keluarga berstatus ilegal, yang menghadapi kesulitan administratif dan akses layanan publik.
Biaya operasional satu sanggar bisa mencapai 1.700 Ringgit Malaysia per bulan, di Sanggar belajar Ampang terdapat 80 siswa, hanya sekitar 50 yang mampu membayar dengan lancar. Meski demikian, kegiatan pendidikan dan pembinaan tetap berjalan berkat keikhlasan para pengelola dan solidaritas sesama warga.
Kegiatan keagamaan di SB Ampang menjadi bagian penting dari pembinaan moral dan spiritual. Setiap Rabu diadakan khotmil Qur’an dan doa bersama; Jumat, diisi dengan yasinan dan tahlilan bergilir dari rumah ke rumah; sementara setiap tiga bulan sekali, diadakan sholawatan dan pengajian besar yang dipusatkan di sanggar. Menariknya, kegiatan besar yang menghadirkan mubaligh kondang sering mendapat dukungan resmi dari pemerintah Malaysia , sebuah bentuk penghormatan terhadap kehidupan beragama komunitas migran.
Sanggar Belajar Ampang berdiri pada tahun 2022, didirikan oleh Faiz Al-Faizin bersama keluarganya yang telah menetap di Malaysia sejak 2014. Hingga kini, lembaga ini telah meluluskan sekitar 300 alumni, dan 50 di antaranya telah kembali ke Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Sistem pendidikannya terdiri dari dua model: reguler dan percepatan, menyesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa. Ijazah resmi dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia melalui PKBM PNF Kuala Lumpur, memberi legalitas pendidikan bagi anak-anak Indonesia di perantauan.
Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan pelajaran moral dan kemanusiaan. Kami menyaksikan bagaimana nilai amar ma’ruf nahi munkar hidup dalam tindakan nyata. Para pengelola sanggar mendidik dengan cinta dan berjuang dengan keikhlasan tanpa pamrih. Mereka tidak sekadar mengajar membaca dan menulis, tetapi menanamkan nilai-nilai iman, disiplin, dan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan mobilitas manusia lintas negara, SB Ampang menjadi simbol kemandirian komunitas Indonesia di luar negeri. Ia menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi sarana dakwah yang lembut dan membebaskan.
Dari ruang-ruang belajar sederhana di Ampang, kita belajar arti sejati dari pengabdian: memberi cahaya di tempat yang paling sunyi. Pendidikan bukan tentang di mana kita berada, melainkan tentang seberapa besar keikhlasan kita berbagi manfaat. Dan dari anak-anak perantauan itulah, bangsa ini kembali diajarkan untuk bersyukur dan berjuang.
Dr. H. AM. Jumai, S.E., M.M.
Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Muhammadiyah Semarang